Saturday, June 08, 2013

Aku Baru Menyadarinya...

Entah bagaimana aku harus memulainya dan entah dengan siapa aku harus meneruskannya. Rasanya berat sekali meninggalkan masa-masa kejayaan itu; yang sekarang telah menjelma menjadi kenangan. Entah masa itu akan ku jadikan kenangan manis atau kenangan yang menyakitkan. Mungkin aku akan menyebutnya kenangan manis, karena masa itu terlalu manis untuk dilupakan dan terlalu manis untuk dihancurkan. Uh, atau mungkin aku akan menjadikannya sebagai kenangan yang menyakitkan, kenangan buruk. Alasanku karena jika kenangan itu terus aku pelihara di otakku dan di hatiku, mungkin aku akan cepat mati karenanya. Sudahlah, aku tidak ingin ambil pusing soal 'masa-masa kejayaan aku dan kamu-"kita"-' .

Kabut gelap telah diusir matahari, embun pun lama kelamaan larut dalam cahaya matahari. Hari ini aku hanya berdoa seperti biasa; Tuhan, tolong jadikanlah hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan buatlah diriku berharga disetiap waktunya. Doa yang sederhana dan menurutku cukup.

Pagi ini aku mengawali lembaran baru. Lembaran yang hanya diisi aku, tidak denganmu lagi. Mungkin biasanya aku torehkan bahagia disetiap pagiku bersama dia, tapi sekarang tidak lagi. Aku hanya tersenyum sinis pada diriku sendiri. Hari ini matahari sedang bersahabat, begitupun sang awan yang siap meneduhkan ku.

Pagi ini juga aku telah ditemani burung gereja yang sudah melantunkan suara merdunya. Tapi semua itu belum dapat membuat keadaan di hatiku berubah. Seperti ada racun yang menjalar disetiap bagian-bagiannya. Aku merasa kurang.

I mean it
Sekarang saat kamu pergi, aku bingung akan membagi senyum ini untuk siapa lagi? Lalu kemana perginya lengkungan bulan sabit yang selalu terlukis di bibir mu? Apa senyummu tak bisa lagi ku lihat? Apa senyummu hanya akan mengendap-endap memasuki alam mimpiku dan tidak akan menjadi nyata? Lalu bagaimana aku menghabiskan semua kebahagiaan ini? Dulu kamu yang selalu temaniku menghabiskannya.
Saat ini juga aku diambang kebingungan, bagaimana caranya mengungkapkan bahwa "aku rindu kamu" dengan lancar? Dan jika kau tak mau mendengar, aku harus melayangkan kata-kata itu kepada siapa? Kepada orang yang membenciku?

Aku terlalu rapuh, bahuku bergetar sangat kencang. Orang yang kuharapkan bisa memberiku ketenangan sekarang sudah pergi. Dulu, jemari kecilku selalu digenggam erat olehnya. Hangat. Seakan darah kita menyatu dalam tubuh. Aku sangat merindukan bahu yang gagah tapi menenangkan, kata-kata yang nyaring berpadu lembut dengan khas anak remaja menyentuh perlahan dan masuk ke dalam rumah siput ku, sangat merindukan dekapan yang selalu kau berikan. Tapi sekarang aku bisa apa?
Udara dingin yang memelukku saat ini, bersandar dengan rapuh pada kursi yang rapuh juga. Hanya menggenggam kunci kecil yang menjadi pengingat ku bahwa aku dan kamu pernah menjadi 'kita' di waktu sebentar.

Langit yang biru sekarang sudah menjadi abu-abu, membawaku tenggelam dalam dinginnya air hujan.


Selamat malam.


No comments: